CEDERA RINGAN PADA OLAHRAGA
CEDERA RINGAN DALAM OLAHRAGA: ANTARA SEMANGAT DAN TANTANGAN
Inspirasi dari Seorang Atlet Suatu hari di tahun 2018, saat ajang Asian Games berlangsung di Jakarta dan Palembang, publik Indonesia dibuat kagum oleh aksi cepat, penuh semangat, dan tangguh dari atlet pencak silat Hanifan Yudani Kusumah. Di babak semifinal, Hanifan sempat mengalami lecet dan memar ringan akibat benturan saat duel, namun ia tetap bertahan dan akhirnya menyumbangkan medali emas untuk Indonesia.
Dalam wawancara bersama media, ia berkata:
“Kalau kita jatuh atau terluka sedikit dalam bertanding, itu bagian dari perjuangan. Yang penting tahu batasnya dan tahu cara memulihkan diri.”
(Hanifan Yudani Kusumah, Kompas.com, 2018)
Kisah Hanifan menunjukkan bahwa cedera ringan adalah hal umum dalam dunia olahraga, tapi bukan berarti harus diabaikan. Jika ditangani dengan tepat, cedera ini bisa segera pulih dan tidak mengganggu performa jangka panjang.
Pengertian Cedera Ringan
Menurut Dr. Michael J. Alter dalam bukunya Science of Flexibility,
“Minor injuries are those that cause temporary discomfort, swelling, or inflammation but usually resolve with rest, cold therapy, and protection.”
(Alter, 2004)
Cedera ringan adalah cedera yang tidak menyebabkan kerusakan parah pada organ tubuh dan tidak memerlukan perawatan medis intensif. Biasanya hanya membutuhkan istirahat, kompres, atau perawatan luka sederhana. Meskipun tidak parah, cedera ini tetap perlu diperhatikan dan ditangani dengan baik agar tidak berkembang menjadi lebih berat atau mengganggu performa atlet. Cedera ringan sering terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurangnya pemanasan, teknik gerakan yang salah, atau benturan ringan saat bermain.
6 CEDERA RINGAN
1. Cedera luka
Cedera ringan luka adalah jenis cedera yang terjadi pada jaringan tubuh bagian luar, seperti kulit, dan umumnya tidak membahayakan jiwa atau fungsi tubuh secara serius. Cedera ini sering terjadi dalam aktivitas olahraga akibat gesekan, benturan ringan, atau terjatuh, dan biasanya dapat ditangani dengan pertolongan pertama tanpa perlu perawatan medis intensif.
1). Luka Tusuk (Puncture)
Luka tusuk disebabkan oleh masuknya benda tajam dan runcing ke dalam tubuh, seperti paku, jarum, atau bagian tajam dari alat olahraga. Luka jenis ini sering terlihat kecil dari luar, tetapi dapat menembus cukup dalam dan menyebabkan kerusakan jaringan internal serta berisiko menimbulkan infeksi serius, termasuk tetanus. Penanganan luka tusuk harus dilakukan dengan sangat hati-hati, termasuk membersihkan luka, tidak mencabut benda asing yang masih tertanam, dan segera membawa korban ke fasilitas medis.
2). Luka Sayat (Laserasi)
Laserasi adalah luka yang terjadi akibat robekan pada jaringan kulit karena terkena benda tajam atau benturan yang keras. Cedera ini sering ditemui dalam olahraga kontak seperti sepak bola, rugby, atau hoki es, di mana tabrakan atau penggunaan alat bisa menyebabkan kulit sobek. Luka sayat dapat bervariasi dari ringan hingga dalam dan memerlukan jahitan jika lukanya cukup besar. Penting untuk membersihkan luka ini dengan hati-hati dan segera mencari pertolongan medis untuk mencegah infeksi dan mempercepat proses penyembuhan.
3). Luka Robek (Laserasi)
Luka robek (laserasi) adalah cedera yang terjadi ketika kulit dan jaringan di bawahnya mengalami sobekan akibat benturan, tarikan kuat, atau kontak langsung dengan benda tumpul atau tajam. Dalam olahraga, luka robek sering terjadi pada cabang yang bersifat fisik atau kontak, seperti sepak bola, tinju, bela diri, atau rugby.
Pada PON XX Papua 2021, atlet Muay Thai asal Sumatera Barat Andri Nofrizal mengalami luka robek pada bagian kepala saat bertanding akibat terkena serangan keras dari lawan. Ia sempat ditangani oleh tim medis di pinggir arena sebelum dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
4). Lecet (Abrasi)
Cedera lecet terjadi ketika kulit bergesekan dengan permukaan kasar sehingga lapisan kulit terluar (epidermis) terkelupas.Meskipun tidak dalam, luka ini dapat terasa perih dan berisiko infeksi jika tidak dibersihkan dengan benar.
Atlet: Anthony Sinisuka Ginting
Narasi: Dalam pertandingan sengit di All England, Ginting berusaha menyelamatkan bola dengan meluncur ke lantai. Gesekan keras dengan lapangan membuat siku dan lututnya lecet. Luka itu tampak kecil, tapi cukup pedih untuk mengganggu konsentrasi.
2. Memar (Kontusio)
Selain itu, memar (kontusio) juga termasuk cedera ringan yang disebabkan oleh benturan tumpul. Cedera ini tidak melukai kulit secara langsung tetapi menimbulkan pendarahan di bawah permukaan kulit yang menyebabkan perubahan warna menjadi biru keunguan. Cedera ini dapat terasa nyeri namun umumnya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari dengan perawatan sederhana.
Atlet: Apriyani Rahayu
Narasi: Saat berduel netting di turnamen SEA Games, raket lawan tak sengaja menghantam lengan Apriyani. Tak ada luka terbuka, tapi keesokan harinya muncul memar ungu kebiruan. Cedera ini umum dan biasanya hilang dalam beberapa hari.
3. Keseleo Ringan (Sprain Grade)
keseleo ringan, yaitu ketika ligamen di sekitar sendi tertarik atau sedikit robek karena gerakan yang mendadak atau salah posisi. Biasanya terjadi pada pergelangan kaki, pergelangan tangan, atau lutut, dan ditandai dengan nyeri, pembengkakan ringan, dan sedikit keterbatasan gerak. Cedera ini dapat pulih dalam beberapa hari dengan istirahat, kompres es, pembalutan, dan elevasi (RICE: Rest, Ice, Compression, Elevation).
Atlet: Gregoria Mariska Tunjung
Narasi: Saat sesi latihan intens, Gregoria salah mendarat setelah melompat. Pergelangan kakinya terkilir, menyebabkan bengkak ringan. Ia harus istirahat selama beberapa hari dengan pengawasan medis.
4. Kram Otot
Kram otot adalah kontraksi mendadak dan menyakitkan pada otot, biasanya akibat kelelahan, kurang cairan, atau kekurangan elektrolit seperti natrium dan kalium.
Atlet: Lalu Muhammad Zohri (atletik)
Narasi: Setelah memecahkan rekor nasional lari 100m, Zohri mengalami kram otot karena dehidrasi. Ia dibantu oleh tim medis dengan peregangan dan diberikan minuman elektrolit.
5. Luka Gores (Cuts)
Luka gores adalah robekan kecil pada kulit akibat benda tajam atau gesekan keras, sering disertai pendarahan ringan.
Atlet: Eko Yuli Irawan (angkat besi)
Narasi: Saat melakukan angkatan clean & jerk, tangan Eko sempat tergesek barbell dan mengalami luka gores ringan. Ia langsung mendapatkan penanganan medis untuk mencegah infeksi.
6. Nyeri Otot (DOMS)
DOMS adalah rasa nyeri dan kaku pada otot yang muncul 12–48 jam setelah latihan berat, terutama jika tubuh belum terbiasa dengan aktivitas tersebut.
Atlet: Apriyani Rahayu (bulutangkis)
Narasi: Setelah latihan intens menjelang Olimpiade, Apriyani mengaku sering mengalami nyeri otot terutama di paha dan bahu. Ia melakukan stretching, bekam, serta terapi panas untuk membantu pemulihan.
Secara keseluruhan, cedera ringan tidak mengancam keselamatan atlet, namun tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu aktivitas olahraga selanjutnya. Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemanasan sebelum olahraga, menggunakan perlengkapan pelindung yang sesuai, serta menjaga teknik dan postur tubuh selama berolahraga.
Sumber Referensi:
CNNIndonesia.com – Wawancara dengan Greysia Polii
Kompas.com – Kisah Hanifan di Asian Games
PBSI – Laporan Media Latihan Tim Bulutangkis
IDN Times – Cedera Atlet Angkat Besi Eko Yuli
Olympic Channel – Cerita Zohri dan Persiapan Fisik
Tribun Sumbar - Atlet Muaythai Sumbar Alami Luka Robek
.jpg)

.jpg)





Komentar
Posting Komentar